Laman

Kamis, 19 Agustus 2010

Kantor Pelabuhan Perikanan Brondong Abaikan Keluhan Nelayan

 Lamongan
Setidaknya setahun terakhir para nelayan Brondong-Lamongan-jatim merasa ketir-ketir ketika melakukan kegiatan melaut, terutama saat tepat pada titik pintu keluar- masuk kapal. Pasalnya, pintu keluar-masuk kapal, atau anjir atau klop sebagai tanda aman atau bahaya bagi kapal nelayan, sangat bergantung pada aman tidaknya zona ini. Karena sedikit saja lengah, kapal nelayan bisa karam atau hancur menabrak bongkahan batu karang .              (keterangan foto Nelayan Brondong melakukan bongkar muat )
Selain itu, saat cuaca buruk melanda, kapal tenggelam sudah biasa. “Kami sudah lama mengeluhkan keadaan anjir yang sangat bahaya tersebut, namun tampaknya pihak yang bertanggungjawab tentang itu, tak pernah menggubrisnya,” kata Warji, salah seorang nelayan Brondong.Hal yang sama juga dikatakan, Slamet, nelayan lainnya, menurut dia sudah sering nelayan sambat (mengeluh) adanya tiang anjir yang nyaris roboh itu, tapi lagi-lagi tak ada respon yang menggembirakan. “Padahal itu, sangat berbahaya dan bisa menghancurkan kapal nelayan, kesalahan sedikit memegang kemudi akan berakibat fatal,” tambah Par.

Kondisi seperti ini, akibat adanya reklamasi laut untuk pengembangan pembangunan kawasan pelabuhan perikanan diwilayah itu, kerap kurang memperhitungkan factor-faktor lain yang selama ini justru membuat nelayan nyaman.

Urugan atau reklamasi laut yang menutup sebagian zona pintu aman keluar masuk kapal nelayan, menambah beban berat nelayan karena pintu keluar masuk (jarak) tiang anjir pada zona aman menjadi sempit.

Ironisnya, kantor UPT Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong justru seolah tak menaruh perhatian terhadap keadaan ini. Terbukti, hingga sekarang kondisi yang sewaktu-waktu bisa mendatangkan bencana tersebut tetap dibiarkan apa adanya. Fakta inilah, yang lantas membuat belayan geram dan akan ramai-ramai mempertanyakan ke kantor PPN setempat.

“Kalau keluhan kami terus diabaikan, ya mau apa lagi, nelayan harus kompak karena ini demi kelancaran nelayan itu sendiri,” tambah Wardi.

Kepala Kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong-Lamongan, Dedi Sutisna melalui Kasi Sarana Prasarana, Amik Amiyoso hingga berita ini ditulis belum berhasil dihubungi.(mas)